TRANSLATE

Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 Februari 2010

Ada Ajaran Yahudi Dalam Film Avatar

NO SARA (sekedar info)

para demonstran di Desa Bilin. Pada protes tanggal 12/2 lalu mereka menghadirkan Avatar di desa yang dikepung pagar-pagar pembatas buatan Israel itu.

Aneh memang melihat para demonstran menggunakan tokoh film Avatar dalam aksinya. Bagaimana tidak, Avatar dibuat oleh orang Yahudi dan sarat pesan ajaran Yahudi. Para rabi di seluruh dunia bahkan bersorak gembira dengan kehadirannya.

Rabi Benjamin Blech dalam tulisannya yang dimuat media online, Yahudi, Aish, bahkan menulis, "Bagi para penonton yang relijius, banyak pesan yang terkandung dalam film itu dan menunggu respon teologis baik pro maupun kontra. Tidak mengejutkan jika pesan spiritual yang sangat banyak itu menarik perhatian Vatikan, di mana film tersebut direview oleh Gaetano Vallini, seorang kritikus budaya di surat kabar harian gereja Vatikan, L’Osservatore Romano."

Blech menilai review itu bersifat negatif, mengingat reviewnya kemudian ditampilkan juga oleh berbagai jurnal dan surat kabar Katolik di seluruh dunia.

Beberapa pesan ajaran Yahudi sangat terlihat jelas. Antara lain pembuatan film dalam bentuk 3 dimensi, yang memerlukan kacamata khusus untuk bisa menyaksikannya dengan baik. Itu adalah sebuah metafora di mana kita harus bersiap untuk "melihat", melihat dengan apa yang sering disebut dengan "mata ketiga", kata Blech.

Ajaran Yahudi memang banyak menyebut "mata" secara khusus sebagai lambang dari tuhan mereka. Lambang mata satu yang dikenal sebagai salah satu simbol ajaran kabalistik adalah simbol yang juga diagungkan Yahudi.

Bangsa Na'vi. Kata Blech, ada orang yang mengatakan padanya bahwa nama itu tidak ada kaitannya dengan "navi" dalam bahasa Hebrew yang berarti nabi. Tapi yang pasti adalah--dan pastinya James Cameron sang empunya film keturunan Yahudi mengetahuinya--akar kata navi arti sesungguhnya adalah "seer", yaitu seseorang yang memiliki kemampuan melihat melebihi orang lain pada umumnya. Dan itu adalah inti dari cerita film tersebut, tulis Blech.

Na'vi dalam cerita itu tidak menyembah dirinya sendiri atau cita-citanya, tapi mereka memuja suatu kekuatan yang sangat agung, yang mereka sebut "eywa". Kata itu tidak lain dan tidak bukan merupakan tetragamaton, empat huruf suci bagi Yahudi yang mewakili nama tuhannya, yang tidak berani mereka ucapkan ataupun tulis dengan jelas.

Dalam kitab suci Yahudi, tuhan mereka biasa ditulis dengan YHVH, atau dikenal umum dengan Yehovah, Yahweh, dan lain-lain. Tidak ada yang baku, karena seperti kata rabi Fred Guttman dalam tulisannya yang dimuat Ethicsdaily, "YHVH adalah kata paling suci untuk tuhan dalam kitab suci dan tidak terlihat jelas dalam pengucapannya, kecuali hanya berupa helaan nafas."

Menurut Guttman, ucapan "I see you" juga mengandung pesan mirip dengan filosofi "I-Thou" yang dijabarkan filsuf Yahudi kelahiran Austria, Martin Buber.

Karakter bangsa Na'vi yang menjaga bumi juga mirip dengan pesan dalam kitab Yahudi, yang berulang kali menyebutkan bahwa bumi adalah tempat yang sangat penting bagi mereka dan terkait erat dengan aturan hukum mereka. Sebagai contoh dalam Deuteronomy 20:19 dikatakan bahwa jika Yahudi memaksa berperang dalam kurun waktu tertentu di mana mereka dilarang untuk berperang, maka mereka diperintahkan untuk tidak menebang pohon-pohon yang berada di daerah tempat tinggal mereka, sebagai hukumannya.

Planet Pandora yang penuh dengan pepohonan, merupakan metafora dari ajaran Pohon Pengetahuan dalam kitab Kejadian.

Dan gunung di planet Pandora yang "menggantung di atas kepala" mereka adalah perumpamaan, ketika Yahudi disuruh berdiri di bawah kaki Bukit Sinai, berjanji untuk selalu mentaati aturan tuhannya.

Penyelamat bangsa Na'vi adalah seorang manusia mantan marinir yang lumpuh. Itu adalah gambaran dari Nabi Musa yang dulu menyelamatkan bangsa Yahudi dari Fir'aun. "Musa sulit bicara dan memiliki lidah yang berat, yang dikirim untuk menyampaikan pesan," tulis Blech.

"Dengan kecacatannya ia menyebarkan pesannya. Dalam film tersebut digambarkan seorang marinir yang tidak dapat berjalan, tapi berhasil membimbing bangsa Na'vi mempertahankan hidupnya dan menemukan jalan menuju nenek moyang mereka."

"Jika saja Cameron tidak pernah mendatangi sekolah Yahudi, ia pasti mendiskusikan karyanya terlebih dahulu dengan seorang rabi," tulis Blech, mengomentari begitu saratnya pesan Yahudi dalam film Avatar, sehingga tidak mungkin dikatakan hanya sebagai kebetulan belaka.
READ MORE - Ada Ajaran Yahudi Dalam Film Avatar

Selasa, 02 Februari 2010

Riset ilmiah interaksi personifikasi manusia di dunia maya : “Avatar”

Film fiksi “Avatar” yang beredar menyambut tahun baru 2010 dalam sekejap saja mampu menjadi film fenomenal yang berhasil menembus perolehan pendapatan global senilai 1 milyar dolar dengan menyuguhkan tontonan film yang benar-benar menakjubkan mata. Film arahan sutradara pemenang Oscar James Cameron ini mempertontonkan garapan tata spesial efek film 3D teknologi multimedia digital tercanggih CGI : “Computer Generated Imagery” yang keseluruhan prosesnya digarap oleh Studio Weta Digital - AS dengan memakan waktu selama setahun lamanya dan diperhitungkan menghabiskan hingga satu Petabyte ( = 1.000 Terrabyte ) alokasi data hard drive komputer.
Diluar kalangan khalayak penonton film yang terpukau akan sajian bentang alam suatu planet di luar bumi ---Pandora--- lengkap dengan penghuni planet bersosok alien yang hampir seluruhnya digarap dengan teknologi animasi CGI bertata tampilan high-definition 3D ini, maka ternyata dunia alam maya ini memang menarik perhatian kalangan yang lebih seurieus yakni ilmuwan dari sejumlah negeri yang kemudian melahirkan riset kajian “on-line virtual worlds”.

Ilmuwan dari Universitas Nottingham - Inggris, Universitas Simon Fraser dan Universitas York - Canada, SRI International di Silicon Valley - AS, dan pengembang game on-line Multiverse bekerjasama melahirkan proyek riset Internasional bertajuk “ VERUS : Virtual Environment Real User Study ” berjangka waktu 3 (tiga) tahun mulai 2010.
Dr. Thomas Chesney, Peneliti dari Business School Universitas Nottingham bertindak selaku co-Principal Investigator bersama dengan Dr. John Murray dari SRI International - Silicon Valley di AS.
Sejak maraknya dunia Internet dalam bilangan dua dekade terakhir maka Kalangan ilmuwan ahli bidang komputer memang telah cukup lama menggeluti riset dunia maya; yakni dalam riset yang bertujuan untuk kepentingan pengembangan games on-line serta riset perihal efektivitas penggunaan aplikasi piranti lunak virtual worlds untuk kepentingan pelatihan dan aktivitas kerja bersama secara on-line collaborative yang dilangsungkan dalam tatanan dunia maya. Adapun kekurangan dalam riset sejauh ini yakni masih terbatasnya riset kajian virtual worlds yang dilaksanakan secara lintas budaya.
Guna menjawab kekurangan yang terjadi tersebut maka program VERUS dalam pelaksanaannya akan membukakan partisipasi sukarelawan dari berbagai penjuru dunia. Para ilmuwan Peneliti akan menelaah aktivitas para sukarelawan tengah beraksi mengikuti permainan on-line a.l: Second Life dan World of Warcraft. Pengembang games on-line secara khusus membuatkan jenis permainan on-line spesial yang pada waktu berjadwal tertentu akan diujicobakan dalam rangkaian proses observasi riset VERUS.

Adapun situs Second Life bisa jadi merupakan ajang beraktivitas kalangan penggemar kegiatan berperan personal beraksi menjadi dirinya sendiri dalam ujud sesosok “Avatar” di dunia maya (= virtual identity ) yang paling populer dan diminati diseluruh muka dunia. Dan tidak kurang dari perusahaan IT terkemuka sekelas IBM yang pernah sempat pula mengoperasikan sebuah sarana data center lengkap yang beroperasi di dunia maya untuk kepentingan uji coba mesin dan sarana pelatihan SDM.
Dr. Chesney sendiri menegaskan bahwa kegiatan permainan dalam dunia maya ini kini tengah semakin popular dan bahkan boleh jadi akan menjadi suatu cara bagi setiap orang untuk mengakses informasi secara optimal di masa depan. Riset yang bertujuan membukakan penemuan baru dalam bidang “human-computer interactions” selain dijalankan secara lintas budaya juga mengikutsertakan kajian riset bidang ; artifial intelligence, cognitive engineering, education research, serta bidang ilmu sosial: social and behavioural sciences.
Proses pengamatan dalam kajian riset meliputi rangkaian kegiatan a.l:
controlled gaming experiments yang dilangsungkan di Universitas Nottingham - Inggris serta Universitas Simon Fraser dan Universitas York di Kanada. Sedangkan kajian riset dengan uji coba permainan dalam tatanan dunia maya spesial akan dijalankan di California oleh pengembang game on-line ternama Multiverse yang pada November yl meraih sukses komersial tinggi ketika meluncurkan computer game “Modern Warfare 2”.


Sumber: Up-dates situs TerraDaily dan Avatarmovie-dot-com / Riki Rahmat
READ MORE - Riset ilmiah interaksi personifikasi manusia di dunia maya : “Avatar”