TRANSLATE

Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Februari 2010

Cara Mengajar yang Baik

Seperti apakah guru ideal itu? Setiap orang bisa menyodorkan daftar panjang berisi kriteria-kriteria untuk menjawab pertanyaan ini. Daftar tadi bisa jadi merujuk pada berbagai referensi—kesiapan materi, cara memperlakukan anak didik, tingkah laku, dan lain-lain—yang bisa jadi berbeda-beda bagi setiap orang.
Tapi, daripada pusing menyusun berbagai macam kriteria, mengapa tidak kita tanya saja anak-anak tentang guru yang baik menurut mereka? EENET Asia menurunkan sebuah laporan tentang guru ideal dalam pandangan anak-anak di China dan Pakistan, tetapi agaknya berlaku pula universal.

Simaklah beberapa komentar anak-anak di China.
  • Ibu guru Gao seperti ibu bagiku. Dia mendengar semua masalah dan keluh kesah kami serta membantu kami menyelesaikan masalah.
  • Guru Shan selalu melucu dalam kelas menulis kami dan membuat kami sangat tertarik dalam pelajaran itu. Tanpa saya sadari, saya jadi sangat suka menulis dan secara bertahap, saya mempelajari beberapa trik untuk menulis dengan baik.
  • Dia memperlakukan tiap siswa dengan setara. Dalam kebaikan hatinya, dia tidak pernah memihak. Sebagai murid, ini adalah hal yang paling berharga tentang guru… Dalam kelas guru Chen, kami merasa santai dan hidup (bersemangat). Dia selalu “tanpa sengaja” mengajukan pertanyaan atau membuat kesalahan agar kami dapat membetulkannya. Jika kami mengatakan sesuatu yang salah, tidak menyalahkan kami. Dia bahkan akan berkata sambil tersenyum: “Kesalahan Bagus! Kesalahan membantu kami menemukan masalah-masalah”. Tidak seberapa lama kemudian, bahkan siswa yang paling pemalu mau mengangkat tangan dan menjawab pertanyaannya.
    Anak-anak di Pakistan berpendapat tentang guru yang baik:
  • Guru kami tahu nama tiap anak.
  • Dia menjelaskan pelajaran di papan tulis. Jika seseorang tidak paham, dia akan mendudukan anak itu disebelahnya dan menjelaskan lagi pelajaran itu.
  • Dia menghormati anak-anak, dia selalu memanggil mereka ‘aap’. (aap adalah bentuk sopan ‘kamu’ di Pakistan)
  • Guru kami selalu memperhatikan tiap anak ketika mengajar.
Paragraf terakhir pada tulisan tersebut agaknya mengena dan menggambarkan secara jelas bagaimana seharusnya seorang guru ideal:
  • Guru yang baik pada dasarnya adalah manusia yang baik. Mereka memiliki kepribadian penyayang, baik, hangat, sabar, tegas, luwes dalam perilaku, bekerja keras, serta berkomitmen pada pekerjaan mereka. Pusat perhatian mereka bukanlah pada buku teks atau kurikulum, tetapi pada anak! Mereka sangat menyadari beragamnya cara anak-anak belajar, perbedaan antar anak-anak dan pentingnya metode beragam untuk mendorong siswa mampu belajar. Anak-anak yang belajar dengan guru semacam itu tidak perlu lagi mengeluarkan uang tambahan untuk mengikuti les sepulang sekolah.
READ MORE - Cara Mengajar yang Baik

Selasa, 02 Februari 2010

Anugerah Doktor Kehormatan UI untuk BJ Habibie.

Civitas academica Universitas Indonesia bertempat di kampus Depok pada hari Sabtu 31 JAN 2010 melaksanakan acara penganugerahan gelar kehormatan “Doctor Honoris Causa” untuk bidang filsafat teknologi bagi BJ Habibie.
Rektor UI Prof. Dr. Gumilar R. Somantri dalam pidato sambutannya menyatakan bahwa Habibie telah mengembangkan pemikiran hubungan monologis manusia dengan alam secara konsisten dan setia dengan menganut 3 (tiga) prinsip hubungan diantara keduanya, yaitu: tidak bebas nilai, kebertautan antara teknologi dan kebudayaan, dan kesiapan infrastruktur bagi teknologi. Sementara BJ Habibie dalam pidatonya mengatakan penganugerahan gelar kehormatan ini menunjukkan bahwa UI tidak menjadikan filsafat sebagai disiplin ilmu yang mengawang semata, namun filsafat dan teknologi bersinergi hingga keduanya mempengaruhi kualitas moral, etika, budaya, dan peradaban manusia.

BJ Habibie menjadi Presiden RI ketiga saat Reformasi 1998 setelah sebelumnya menyandang jabatan Menteri Riset dan Teknologi selama lebih dari 2 (dua) dekade. Ia sesungguhnya lebih terpandang sebagai sosok ilmuwan terkemuka lulusan Universitas Aachen di Jerman dengan gelar “Doktor Ingenieur” dengan klasifikasi “Summa cum laude” pada tahun 1965.
Gelar Doktor Kehormatan pun sebelumnya pernah dianugerahkan baik dari institusi universitas dalam negeri yakni ITB (2006); maupun universitas luar negeri yakni Doctor of Science dari Cranfield Institute of Technology, Inggris (1993).
Habibie setidaknya telah menyandang anugerah 20 Penghargaan Internasional & 15 penghargaan bertaraf Nasional untuk Ilmu Pengetahuan a.l:
- Anggota Kehormatan “Gesselschaft fur Luft und Raumfarhr” , Jerman.
- Anggota kehormatan The Royal Aeronautical Society, Inggris (1983)
- Anggota / Fellow majelis Royal Swedish for ENgineering Sciences (1985)
- Anugerah Sains yg sangat prestisius Theodore van Karman Award di Jerman (1992)
- “Grand Officer de Legion Dhonneur”, Prancis (1997)

Pada kesempatan acara AIPI : Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia yang berlangsung seminggu yl bertempat di Gedung DRN Puspiptek Serpong, Presiden RI Yudhoyono dalam pidato sambutan acara tanpa ragu sempat menyebutkan nama BJ Habibie sebagai Bapak Teknologi Nasional atas jasa-jasanya yang luar biasa dalam pengembangan Iptek di Indonesia.
Atas inisiatifnya pula melalui aktivitas Yayasan Sumber Daya Manusia dalam Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang digagas BJ Habibie maka dunia Sains di tanah air sejak tahun 1999 hingga sekarang dapat mengenyam keberadaan anugerah penghargaan berhadiah sejumlah uang (total AS $ 25.000) “Habibie Award” bagi Ilmuwan berprestasi disamping pemberian sejumlah beasiswa untuk studi bidang Sains dan Iptek.


Sumber: Portal Iptek
READ MORE - Anugerah Doktor Kehormatan UI untuk BJ Habibie.

Minggu, 31 Januari 2010

Pulau Belitong, Laskar Pelangi, dan Ibu Muslimah

              Kalau membicarakan Pulau Belitong yang ada dibenak kita pasti tertuju pada Mega Best Seller Novel maupun Film bertajuk LASKAR PELANGI. Kalau kita mengikuti kisah sekelompok anak belitong itu, pasti tau seorang guru yang bernama Ibu Muslimah. Ya, mesti euforia Laskar Pelangi perlahan telah berlalu, namun banyak cerita yang ditinggalkan dari karya Andrea Hirata itu. 
          Sukses Film Laskar Pelangi berdampak positif terhadap dunia pariwisata Belitung melalui film yang diangkat dari novel karya Andrea Hirata ini, nama Belitung dikenal banyak orang. Sebelum Film Laskar Pela ngi menjadi booming, banyak orang yang tidak tahu dimana letak Pulau Belitung, tak terkecuali ketika presidium pembentukan Provinsi Bangka Belitung (Babel) tahun 2000 melakukan presentasi di depan anggota DPR RI.
          Pulau Belitung adalah pulau yang potensial. Kekeluargaan yang begitu bagusnya, begitupun dengan budayanya. Pulau indah, pemandangan unik pantai pasir putih asli dihiasi batu-batu granit yang artistik dan air laut sejernih kristal, dikelilingi oleh ratusan pulau-pulau kecil.
Lalu bagaimana dengan Ibu Muslimah. Siapakah Ibu Muslimah dan ada hubungan apa Ibu Muslimah dengan euforia Belitong dan Laskar Pelangi?. Pasti anda sudah tau sosok guru satu ini. Ya, guru yang sekarang menginspirasi banyak orang terutama guru itu sekarang menjadi ikon dari Pulau Belitung serta simbol pendidikan di sana. Sungguh dahsyat pengaruh dari kesuksesan Novel Laskar Pelangi yang berhasil di visualisasikan dalam bentuk Film oleh Trio sineas Mira Lesmana, Riri Riza, dan Salman Aristo ini. Semoga keteguhan dan keikhlasan Ibu Musilamah juga tertanam pada setiap pendidik di negeri ini.
READ MORE - Pulau Belitong, Laskar Pelangi, dan Ibu Muslimah

Sabtu, 30 Januari 2010

Quality Education in the Cultural Performance Instant

Education is a lifelong requirement. Every human being needs education, until when and wherever he is. Education is very important, because without education people will be difficult to grow and even be retarded. Thus education should really be directed to produce quality human and able to compete, in addition to having a noble character and good morals.



Times have changed. Everyone wants fast-paced. Be, tend to neglect the process but want to get a result. Especially in countries with low work ethics such as Indonesia. As a result, instant culture began to enter into each of our lives. Living in modern times like now everything can be obtained easily, practical and fast. Technological advances have been spoiling us. Want to chat with colleagues or relatives who live in other parts of the world, pick up the phone or go to the internet. Want to shop or eat at the restaurant but lazy out, live messages over the phone or buy on the website. Transaction would transfer money, pay electricity, credit cards, buy credit-need not bother to the bank or ATM. All can be done via phone. For girls who want long hair does not need to wait for months. Simply wait for ½ hour with the hair extension techniques, hair can be long as you wish.



Understandably, people increasingly busy. Lazy bothered with things ribet. I wish all instant. Was wrong?, As long as it follows the laws of nature, all in an instant it was legitimate. "Life is good and successful life in accordance with natural processes". Up to a certain level we can use technology to speed up the things that can be accelerated according to the laws of nature. Technological advances and demands of the times, allow us to get something fast-paced. But no sooner home. Quality must be maintained. "Paddy the new 100-day harvest was good". But remember that there can be accelerated. Properly, the result should be better. So, quick, good quality and must be held together.



Unfortunately, the opposite happened. Get something with easily make people reluctant to bother. Do not want to go through the process. Aka lazy. The important thing is fast!. Qualified or not, that's later. Oriented only on the results. The process is not important. Worse, "virus" that has spread to various aspects of life. Want to instant success in a way. Be, many people of corruption, had a fake title, buy thesis, diploma asphalt, if passed, get rich quick through the doubling of money and so forth. If it's heavy, boring and outdated why we should be good quality? If there is a quick way of getting results, why not try?. Furthermore, there is now a shift in values in society. People increasingly individualistic and tend to abuse the rights of others. To pursue his success, people do not hesitate to sacrifice others.



Tend Dibisniskan education.



The emergence of a variety of ways that lead to violations of academic ethics that our universities do to win the competition, shows that education is now likely to be used as the business arena. Promotion patterns that provide convenience and the lure of prize is a picture that college is no innovation in terms of education quality. The trend is going to destroy the world of education, because ultimately the people not in college to improve the quality of self, but only after the title for prestige. Condition of higher education today is quite apprehensive. There are private universities that ignore the educational process. There are even universities that only a moneymaking machine, rather than produce qualified graduates. This is what makes the competition becomes increasingly unhealthy.



Product college graduate education process at random and even a trick, also tend to justify all means to recruit prospective students as much as possible, with the occasional promotion trap with the lure of a lucrative prize. Is this the picture quality education?. In fact there are several private universities in Jakarta, which plays a range of values to pass students, because they are afraid, when he finished the final exam (UTS / UAS) many students who do not pass the alias IP / GPA Nasakom. So that they graduate with mediocre numbers actually are not graduating students. In this case all parties must do introspection in order to provide quality education services. Kopertis, must be firm action against the Private Higher Education (PTS) and socialize in violation of the rules that should never be violated by the PTS. College managers also had to stop all measures that violate the rules. Key controls exist in the hands gradually Study Program Chairman, Director, Dean, Rector and Chairman of the Foundation.

Bachelor Graduates challenges in the Information Age.



When the scholars thronged the job market arena to offer their knowledge and diplomas, the ads are also receiving new students almost filled the pages of newspapers. Two phenomena are ironic. Higher Education Campaign to lure prospective students as "intensively" with the increase in graduate unemployment. On the other hand, to ask the question, what exactly are the qualifications required by employment seekers graduates of this university?



Answer the researchers obtained generally is a mixture of personal qualities and academic achievement. But the headhunter mengonkretkan never, for example, how much they expect a specialization course at the university. Qualifications such as having numerical skills, problem-solving and communicative often a predictor of Higher managers rather than an explicit statement of employment seekers. Survey results show the desire of change employment seekers are qualified graduates in their university requirement.



Not every qualification requirements contained in job ads as an important value to the headhunter. In practice, the qualifications stated as "most wanted" by the headhunter is not always the qualification "most critical" or not received a graduate degree in a job.



Interestingly, the three qualifying categories of personal competence, ie honesty, responsibility, and initiative, to be the most important qualification, most wanted, and most decisive in the recruitment process. Interpersonal competence, as capable of working together and flexible, is considered the most wanted and most decisive. However, although often included in job advertisements, grade point average (GPA) as an indicator of academic excellence does not include the most important, most sought-after, nor the most decisive.



On the other hand, the reputation of higher education institutions that include accreditation status was measured with a course was not included in the list of the most important qualification, most wanted, or at least determine the recruitment process of college graduates by employment seekers.



There is a tendency for a headhunter "ignore" graduates studies In an interview, the head of HRD of a bank in Cirebon asserted, the quality personal correspondence with the characteristics of an occupation more acceptable to determine whether or not a university graduate. For example, the position as a bank teller demanding speed, agility, and precision. Thus, graduates with these qualities sarnaja have a great chance to be accepted even though the field of educational background do not match. Head of HRD is to say, "I never received a Bachelor of Agriculture of Bogor as a cashier at the bank refused our Bachelor of Economics and Management from Bandung that his GPA is very good."



Qualifications required working world is important to note the university management to cope with it disconnected between universities with the world of work and unemployed graduates. If the correction system of selection of new students is intended to filter out students according to basic competence, attention to the qualifications required by the labor market is intended as a processing standard that basic competence. For that, cooperation and Universities the world of work is necessary.
READ MORE - Quality Education in the Cultural Performance Instant

Jumat, 29 Januari 2010

Fakta Pendidikan Indonesia

Sistem sekolah Indonesia sangatlah luas dan bervariasi. Dengan lebih dari 50 juta siswa dan 2 ,6 juta guru di lebih dari 250.000 sekolah, sistem ini merupakan sistem pendidikan terbesar ketiga di wilayah Asia dan bahkan terbesar keempat di dunia (berada di belakang China, India dan Amerika Serikat). Dua menteri bertanggung jawab untuk mengelola sistem pendidikan, dengan 84 persen sekolah berada di bawah Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) dan sisa 16 persen berada di bawah Departemen Agama (Depag). Sekolah swasta pun memainkan peran penting. Walaupun hanya 7 persen sekolah dasar merupakan sekolah swasta, porsi ini meningkat menjadi 56 persen di tingkat menengah pertama dan 67 persen di tingkat menengah umum. Tingkat pendaftaran bersih sekolah dasar berada di bawah 60 % di kabupaten-kabupaten tertinggal dibandingkan dengan di kabupaten maju yang memiliki pendaftaran universal. Tingkat pendaftaran bersih untuk pendidikan menengah mengalami peningkatan kuat ( saat ini 66 % untuk Sekolah Menengah Pertama dan 45 % untuk Sekolah Menengah Umum) tapi tetap rendah dibandingkan dengan negara-negara lain di wilayah ini. Indonesia juga tertinggal dengan para tetangganya dalam Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Tinggi, dengan tingkat pendaftaran kotor sebesar 21 % dan 11 , 5 % secara berurutan. Pendidikan merupakan hal penting bagi agenda pembangunan Pemerintah Indonesia. Belanja pendidikan telah meningkat secara signifikan di tahun-tahun terakhir setelah terjadinya krisis ekonomi. Secara nyata, belanja pendidikan meningkat dua kali dari tahun 2000 sampai 2006. Di tahun 2007 , belanja untuk pendidikan lebih besar daripada sektor lain, yang mencapai nilai US$14 miliar, atau lebih dari 16 persen dari total pengeluaran pemerintah. Sebagai bagian dari PDB (3 ,4 persen), jumlah ini setara dengan jumlah di negara lain yang sebanding. Undang-Undang mengenai Pendidikan Nasional (No. 20 / 2003) dan Amandemen Konstitusi III menekankan bahwa semua warga Indonesia berhak mendapatkan pendidikan; bahwa Pemerintah wajib untuk membiayai pendidikan dasar tanpa biaya; dan bahwa Pemerintah diberi mandat untuk mengalokasikan 20 % dari pengeluarannya untuk pendidikan. Undang-Undang mengenai Guru (No. 14 / 2005) memperkenalkan perubahan-perubahan penting atas syarat dan ketentuan pemberian kerja untuk sertifikasi guru, yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Rencana strategis Departemen Pendidikan untuk 2005-9 memiliki tiga pilar utama: 1 . Peningkatan akses terhadap pendidikan; 2 . Peningkatan kualitas pendidikan; 3 . Kepemerintahan yang lebih baik dalam sektor pendidikan. Di tahun 2005 , Pemerintah meluncurkan program yang disebut BOS (Biaya Operasional Sekolah), sebagai cara untuk menyampaikan dana secara langsung ke sekolah- sekolah agar anak-anak tetap bersekolah dan memberi sekolah kebebasan dalam mengelola dana mereka sendiri. Dalam mendukung hal ini sekaligus upaya desentralisasi secara umum, Pemerintah telah menetapkan prinsip Pengelolaan Berbasis Sekolah dalam sistem pendidikan nasional serta menyediakan kerangka untuk Standar Nasional Pendidikan. Tim pendidikan Bank Dunia berfokus dalam mendukung Rencana Strategis ( RENSTRA) Departemen Pendidikan Nasional Mulai dari RENSTRA 2005-2009 , Bank Dunia telah mengembangkan portofolio dukungan atas program-program utama yang diidentifikasi oleh Kementerian sebagai dukungan tambahan. Dialog Pendidikan Tematis yang dipimpin Bappenas ( forum untuk Pemerintah dan mitra pembangunan dalam mendiskusikan masalah sektor di tingkat kebijakan) menyediakan arah bagi Bank Dunia dan mitra pembangunan mengenai area fokus untuk dukungan di masa depan. Forum tersebut saat ini memimpin Penilaian Sektor Pendidikan yang akan menyediakan dasar analitis untuk keputusan strategis mengenai arah RENSTRA 2010-2014 , yang akan digunakan mitra pembangunan sebagai kerangka dukungan di masa depan. Program Bank Dunia akan menjembatani program RENSTRA 2005-9 dan 2010 dengan portofolio pinjaman investasi, dana perwalian, dan karya analitis berjalan dan yang akan datang mewakili Kementerian, menyediakan dukungan komprehensif atas karya Direktorat Jenderal di bidang kualitas guru, pendidikan dasar, pendidikan tinggi, dan pengembangan anak usia dini. Portofolio proyek Kluster Pendidikan terdiri dari proyek-proyek Pendidikan Anak Usia Dini, Dasar, Tinggi, dan Informal. Sebagai tambahan, proyek pelatihan remaja dan prakarsa di tingkat sektor saat ini akan dilakukan. Lebih dari US$ 830 juta diberikan sebagai komitmen untuk bidang Pendidikan kepada Pemerintah Indonesia oleh IDA dan IBRD. Total biaya proyek aktif dan proyek yang akan dilakukan adalah lebih dari US$1.5 miliar. Terlebih lagi, ada dana perwalian dalam jumlah besar yang akan mendukung program pemberian pinjaman.
READ MORE - Fakta Pendidikan Indonesia