TRANSLATE

Senin, 15 Februari 2010

Gara-gara Facebook, Empat Siswa Dipecat


Jejaring sosial, fa cebook, yang lagi trend di tengah masyarakat mulai memakan korban. Tragisnya, empat siswa disalah sat u sekolah favorit di Tanjung Pinang, Batam, Provinsi Kepulauan Riau menjadikan soft ware itu untuk menghujat sang guru. Tak pelak menjadi polemik, haruskah hukuman terbilang berat itu mereka pikul?

Kasus dikeluarkannya empat siswa kelas 11 IPA 3 SMAN 4 Tanjung Pinang, menarik perhatian berbagai pihak. Bahkan, Gubernur Kepri Ismeth Abudullah dan Walikota Tanjungpinang Suryatati A Manan juga menyangkan putusan terbilang ekstrim tersebut.

"Gara-gara Facebook?" ujar Ismeth, Sabtu (13/2) kemarin usai menghadiri perayaan imlek di Jalan Merdeka.

Ismetg mengaku belum mengetaui kasus tersebut, tapi menurutnya seberapa jauh kasus yang dilakukan keempat anak-anak tersebut hingga akhirnya dikeluarkan dari sekolah. Setali tiga uang dengan Suryatati A Manan.

"Harusnya dikasih peringatan dulu, tidak harus langsung dikeluarkan, tapi saya lihat dulu sejauh mana kasus ini sebenarnya," ujar Tatik, panggilan akrab Suryatati A Manan.

Ditempat terpisah, keempat mantan siswa SMAN 4 itu mengungkapkan kekecewaannya terhadap sikap sekolah yang mengeluarkan mereka. Saat ini tiga dari empat siswa tersebut sudah mendapatkan sekolah baru, yakni Yankee Maulana, mendapatkan sekolah di Pelita Nusantara, Afis Gifari SMAN 5 Bintan, Alamanda Nuvindra SMAN 3. Sedangkan Amelia Rismala memilih pindah sekolah ke Batam. Hanya saja hingga berita ini diterima, menurut pengakuan teman-teman Amel, Amel belum juga mendapatkan sekolah. "Katanya masih terkendala dengan masalah surat-surat pindah dari sekolah sebelumnya," ujar Yankee pada RPG kemarin, Ahad (14/2).

Saat ditemui RPG di rumah Alamanda. Selain dia, di rumah tersebut juga ada Yanke salah satu siswa yang dikeluarkan sekolahnya. 'Amel di Batam dan Afis di Bintan,' ujar Alamanda menyebutkan kedua teman mereka yang juga dikelurkan sekolah. Tapi saat itu ada dua teman sekolah mereka lain yang juga berada di rumah Alamanda, Sugita dan Jemmi.

Kejadian tersebut dikisahkannya Rabu (27/1) lalu. Malam itu Afis membuat status di Facebook yang mengungkapka kekesalannya dengan guru yang mengajar ketrampilan, Yunita (38). Status tersebutpun mendapat tanggapan dari tiga rekannya yang lain yang juga ikut membuat komentar. "Rata-rata kita dikelas memang tidak suka, makanya saat Afis buat status tersebut, jadi terpancing buat komentari," ujar Yanke.

Tapi diakui Yankee, ia sempat kawatir status tersebut dibaca oleh pihak sekolah dan meminta Afis untuk menghapusnya. "Cuma mungkin malam itu karena kesal, jadi tidak terlalu ditanggapi, kami juga tidak mengira akhirnya seperti ini," ujar Yankee.

Apa yang dicemaskan Yanke, ternyata terjadi. Malam itu juga ada pihak sekolah yang melihat status yang mengungkapkan kekesalan siswa tersebut. Pada hari itu, Kamis (28/1), para guru rapat membahas kasus Facebook tersebut. Merekapun mendengar isu akan dikeluarkan.

"Kami saat itu sudah mengakui kesalahan kami, bahkan Afis juga mengakui perbuatannya dan minta pada sekolah agar dia saja yang dikeluarkan dari sekolah, karena itu kesalahannya," terang Yankee yang diaminkan Alamanda.

Bahkan, untuk memberi dukungan terhadap keempat siswa tersebut, satu kelas 11 IPA 3 SMAN 4, dari hari Kamis - Minggu terus berupaya mendatangi rumah guru-guru untuk meminta petunjuk. Tapi ternyata upaya mereka gagal, hingga akhirnya Senin dipastikan keempatnya dikelurkan dari sekolah. "Bahkan kami juga mendatangi rumah Bu Yunita, tapi dia tidak bisa ditemui," ungkap Alamanda.

Ditambahkan Sugita, teman satu kelas keempat siswa yang dikeluarkan tersebut, mengaku sepi setelah keempatnya keluar dari sekolah. "Jadi sepi aja nggak ada mereka, kalau bisa mereka bisa diterima kembali sekolah di SMAN 4," ujar Sugita.

Menurut Sugita, keempat teman mereka diakuinya tidak harus menerima hukuman seperti itu. Bahkan, menurutnya Afis termasuk anak yang pintar karena masuk 10 besar di kelasnya. Tidak hanya itu, Yankee dan Amel selama ini juga tidak pernah terlibat masalah di sekolah. ''Masa gara-gara ini mereka langsung dikeluarkan, apa tidak bisa diperingti dulu,'' ujar Sugita menyangkan sikap sekolahnya itu.

Eri, orang tua Alamanda, saat ditemui di rumahnya juga mengaku sebelumnya pernah dipanggil pihak sekolah sehubungan dengan kenakalan anaknya. Tapi menurutnya, apa tidak ada sanki lain yang diberikan kepada anaknya. 'Saya hanya menyangkan sikap sekolah, sebagai orang tua, kalau anak saya salah, hukuman apapun yang dia lakukan tidak ada masalah, itu wewenang sekolah, tapi kalau sampai dikeluarkan seperti ini, sepertinya pihak sekolah tidak ada tanggung terhadap siswanya,' ujar warga Batu 2,5 ini.

Ditambahkan Alamanda, jika memang SMA 4 mau menerimanya kembali, ia mengaku lebih suka sekolah di SMA 4. Hal tersebut juga dibenarkan Yankee. Hanya saja, karena proses pindah sekolah bukan hal yang mudah dan murah, Yankeepun tidak yakin orang tuanya mau memindahkannya kembali ke SMA 4. ''Biayanya mahal masuk Pelnusa,'' ujarnya.

Tidak Mau Memaafkan

Hal tersebut juga diungkapkan Eri orang tua Almanda. Meskipun proses pindah sekolahnya tidak semahal Yankee, tapi proses pindah sekolah juga tidak mudah. ''Yah, semoga ini jadi pelajaran buat anak-anak yang lain juga dan pelajaran buat pihak sekolah dalam mengambil keputusan untuk anak didiknya,'' harap Eri.

Terkait keputusan ini, Wakil Kepala Sekolah SMU Negeri 4, Tanjungpinang Yose Rizal saat dikonfirmasi wartawan, Ahad (14/02) menyebut, sebenarnya pihak sekolah sudah berupa agar guru yang dihina di facebook itu memberikan maaf pada muridnya. Namun, guru tersebut tidak membuka pintu maaf atas ulah murid-muridnya.

"Akhirnya menjelis guru memberikan keputusan untuk dikeluarkan. sebelum mereka mendapatkan sekolah pengganti kita beri kesempatan tetap belajar. Dua murid itu kini sudah pindah sekolah, tapi dua lagi saya belum tahu pasti," kata Yose sebagaimana dilangsir detik.com.

Yose menyebut, tindakan pemindahan ini hanya sebagai bentuk efek jera saja. Di mata para guru, anak-anak itu sudah sangat keterlaluan. Mereka menghina guru yang hinaan itu masalah yang sangat pribadi sekali.

"Dalam facebook mereka menulis sebaiknya guru itu dibuang kelaut aja, dimutilasi saja. Ini jelas tidak pantas. Tapi yang menyakitkan guru itu soal kepribadiannya. Kalau ancaman mutilasi kami anggap itu masih sebatas gurauan saja," kata Yose.

Yose mengakui, kasus penghinaan guru lewat jaringan teman di facebook itu kali pertama terjadi di sekolah mereka. Karena itu, dia berharap ke depan jangan ada lagi murid yang menghina guru baik secara langsung maupun lewat dunia maya.

"Keempat murid yang kami keluarkan itu termasuk selama ini dikenal murid yang baik. Malah salah satu dari mereka masuk dalam kategori murid yang berprestasi," kata Yose. (cha/irw/dew/yon)

0 komentar:

Poskan Komentar