TRANSLATE

Selasa, 02 Februari 2010

Museum Tsunami Aceh yang berdaya tarik tinggi namun tetap membumi

Antara gagasan, tata letak lokasi, dan ujud sosok arsitektur ketiganya menyatu dengan pas demikian agaknya yang terkesan untuk sosok bangunan Museum Tsunami NAD yang direncanakan sejak tahun 2006 dan resmi dibuka bagi umum 3 tahun kemudian pada akhir Feb yl. Museum Tsunami NAD yang terletak di kecamatan Ulee Lheu kota Banda Aceh adalah desain karya arsitek M. Ridwan Kamil dkk. yang terpilih sebagai pemenang pertama sayembara proyek Museum Tsunami NAD yang digagas BRR : Badan Rehabilitasi Rekonstruksi NAD-Nias, Pemda Propinsi Nangroe Aceh Darussalam, dan Pemkot Banda Aceh dengan dukungan dana dari sejumlah instansi Pemerintah maupun donor l.n lainnya.
Sebelum museum Tsunami jadi bagi penduduk awam kota Banda Aceh sendiri sosok kapal turbin pembangkit listrik terapung yang terdampar terseret gelombang pasang Tsunami hingga ke tengah kota bisa jadi dipandang sebagai museum terbuka atau monumen tsunami tersendiri. Sekarang setelah bangunan museum ini berdiri maka penduduk kota Banda Aceh khususnya maupun segenap penduduk Indonesia pantas bersyukur karena telah memiliki sebuah wahana yang berfungsi sebagai tempat perenungan sekaligus pembelajaran ilmu pengetahuan fenomena Tsunami bagi generasi sekarang hingga ke generasi yang akan datang.

Arsitek perancang museum menamakan karyanya dengan judul “Museum Tsunami as Escape Hill” untuk bangunan yang luasnya 5.3000 m2 pada lahan tapak seluas 10.000 m2. Sosok bangunan utama terdiri atas 2 lantai “juxtaposition” massa bagunan lonjong berbentuk elips terbuka yang di sumbu tengahnya terdapat bentuk serupa bundaran kerucut : silo. Kedua lantai bangunan untuk fungsi utama museum seluruhnya dibuat seolah melayang : floating floors disangga deretan kolom dan ditengahnya diadakan kolam air berbentuk elips. Konsepsi lantai bangunan melayang ini memang diilhami oleh gaya arsitektur tradisional rumah panggung : Rumoh Aceh.
Dibawah kolam terdapat memorial-hall berbentuk basement yang disana-sini pada langit-langit ruangan berhiaskan aksen pencahayaan bulatan skylight yang dilewatkan kedalaman kolam air hingga memberikan efek pencahayaan dramatis dalam temaram kegelapan ruangan dan disini ruang peralihan yang difungsikan sebagai pameran multimedia inter-aktif atau pula sebagai auditorium hall yang menyuguhkan display eksplorasi fenomena tsunami.

Dibantu dengan permainan level permukaan tapak yang dibuat menanjak pada area bukaan entrans sang Arsitek merancang pengalaman spasial pertama yang merefleksikan fenomena tsunami lewat alur lorong masuk berupa ramp menurun yang menuju ruang memorial ditengah dan terdengar gemericik air mengalir dikanan-kiri jalan alur masuk ini. Proses kedua setelah memasuki kedalam memorial hall kemudian berlanjut dengan pengunjung memasuki sosok silo berbentuk kerucut terpancung. Pada dinding dalam silo dipahatkan beribu-ribu nama-nama penduduk Aceh yang menjadi korban mega bencana Tsunami Aceh yang melanda tgl 26 Des 2004. Pengunjung bergerak mengamati dinding dalam silo seraya bergerak naik berjalan mengitari dinding dalam silo yang diatasnya dirancang bukaan skylight berpahatkan tulisan kaligrafi “Allah” untuk menerangi temaram ruangan perenungan cahaya “The Light of God” di atas sumuran seolah menjadi puncak dramatisasi sekwen proses penghayatan diiringi dengan kelegaan pertanda datangnya sinar pengharapan bagi rakyat Aceh. Sebagai proses lanjut rangkaian pengalaman spasial maka pengunjung diarahkan untuk lanjut kembali dengan alur untuk berjalan pada ramp melayang yang melintasi kolam elips atau pilihan bergerak melalui ramp naik mengitari dinding luar silo hingga sampai di bangunan fungsi utama pameran di kedua lantai bangunan utama pameran. Fungsi-fungsi ruang yang terdapat di seantero 2 lantai layaknya museum masa kini a.l : r. pameran tetap, r.pameran temporer, studio audio/visual, perpustakaan, dengan kelengkapan fasilitas penunjang seperti kantor pengelola, restoran, mushola, dll.
Adapun pergerakan pengunjung pada ramp di dinding silo kemudian diarahkan menuju lantai atap yang dibentuk berupa segmen-segmen luasan dalam beberapa level undakan naik yang seluruhnya ditutupi penghijauan tanaman rumput terhampar yang merefleksikan seolah dataran perbukitan analogi sebagai jalur evakuasi tsunami: “Escape Hill”.

Dunia arsitektur Internasional sempat mempertunjukkan bagaimana sosok karya cipta arsitektur museum seperti Staat Gallery di Stutgart di Jerman karya arsitek Inggris James Stirling ataupun Museum Gugenheim di Bilbao - Spanyol karya arsitek Amerika Frank Gehry selain berhasil mewujudkan sosok arsitektur bernilai estetika amat menonjol yang bahkan ternyata dapat pula mengilhami pertumbuhan ekonomi kota tempatnya berada berhubung sukses besar dalam menarik jutaan pengunjung dari segenap penjuru dunia hingga dipandang sebagai “icon” bagi arsitektur pada periode zamannya bahkan hingga sampai pada masa sekarang.
Bagi Museum Tsunami NAD setidaknya telah memiliki adanya kesamaan fundamental dibanding dengan kedua contoh diatas bahwa rancangan karya arsitektur ini diperoleh lewat proses sayembara berskala nasional. Adapun kesan pas antara ketiga segi seperti yang diuraikan diatas: ide - setting lokasi - dan rancangan arsitektonis berkonsepsi Rumoh Aceh merupakan modal kuat yang dapat menjadikan bangunan museum ini menjadi sosok yang berdaya tarik tinggi layaknya arsitektur museum modern masa kini namun tetap membumi sesuai kelokalan ranah negeri Serambi Mekkah. Waktu jualah nanti yang memang akan membuktikan keberhasilan atau sebaliknya kekurang berhasilan dalam keberadaannya guna memenuhi misi utamanya sebagai sarana pendidikan ihwal fenomena tsunami agar selalu dapat dihayati dan dipelajari segenap khalayak tanah air atau khususnya bagi segenap penduduk Nangroe Aceh Darussalam.

Edited by : Riki Rahmat

0 komentar:

Poskan Komentar